Oct 26

Apa artinya type rating, type rated, non-type rated pada simulator


Apa artinya type rating, type rated, non-type rated

Banyak orang mengira bahwa kalau sudah lulus dari sekolah penerbang/flying school dan memiliki Commercial Pilot License (CPL),

maka bisa menerbangkan pesawat apa saja. Setelah punya PPL, CPL bahkan ATPL, seorang penerbang harus mengikuti pelatihan untuk

menerbangkan pesawat-pesawat di bawah ini :

Pesawat yang disertifikasi untuk diterbangkan oleh minimum 2 orang.

Pesawat besar (large aircraft), dalam peraturan keselamatan pesawat besar ini adalah pesawat dengan berat lepas landas maksimum lebih dari 5700 kg atau 12500 lbs.

Helikopter yang pengoperasiannya memerlukan ATPL. Biasanya helikopter dengan satu penerbang dan berat di bawah 5700 kg tidak perlu type rating.

Pesawat dengan sumber tenaga turbojet.

Pesawat lain yang oleh pihak otoritas diharuskan pada saat mendapatkan sertifikat tipe pesawat.

Belajar sendiri dengan CBT.

Pengoperasian pesawat lain seperti menjadi instruktur penerbang, menerbangkan pesawat piston ringan bisa dilakukan tanpa type rating.

Proses mendapatkan type rating sama dengan mendapatkan rating lain seperti instrument rating. Pelatihan teori dan praktek, ujian tulis dan ujian praktek. Jaman sekarang pelatihan teorinya bisa berupa computer based training. Jadi calon pemegang type rating mengikuti pelatihan di institusi yang ditunjuk, belajar sendiri dengan menggunakan komputer.

Selama atau setelah belajar dengan komputer atau di kelas, seorang penerbang harus menjalani pelatihan praktek. Pelatihan ini bisa dilakukan di pesawat sebenarnya atau di simulator. Simulator yang boleh dipakai adalah simulator yang disetujui oleh otoritas.

Untuk pesawat yang besar, pelatihan di pesawat harganya sangat mahal. Untuk menurunkan biaya maka pelatihannya dilakukan di simulator saja. Simulator sendiri ada berbagai jenis. Simulator yang disetujui untuk pelatihan biasanya adalah simulator yang bisa bergerak di 6 poros dan mempunyai kategori visual D. Artinya gerakannya akan sangat mirip dengan pesawatnya dan visual yang dihasilkan mirip dengan sebenarnya.

Setelah lulus ujian tulis dan lulus ujian praktek oleh otoritas penerbangan, maka penerbang tersebut sudah mempunyai type rating pesawat tersebut. Penerbang tersebut bisa disebut type rated di sebuah pesawat. Misalnya Airbus A320 type rated.

Lowongan pekerjaan penerbang kadang juga menyebut lowongan untuk non type-rated. Artinya penerbang tanpa type rating pesawat yang dibutuhkan juga bisa diterima. Setelah diterima maka penerbang tersebut akan menjalani pelatihan type rating yang dibutuhkan. Contohnya, Boeing 737 dan bisa diterima bekerja sebagai penerbang Airbus A320. Hanya saja pada waktu proses penerimaan itu disebut non-type rated. Setelah diterima dikirim ke pabrik Airbus untuk belajar Airbus A320. Setelah mendapat dari pelatihan menjadi A320 type rated pilot.

Biaya type rating ini bisa ditanggung oleh perusahaan yang menerima atau bisa juga ditanggung oleh penerbang yang bersangkutan. Biasanya hukum ekonomi berlaku. Yang membutuhkan akan membayar biayanya.

 

---------------------------------------

 

Sumber:

CASR part 61 LICENSING OF PILOTS AND FLIGHT INSTRUCTORS. LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : PM 50 Tahun 2016 TANGGAL : 3 Mei 2016

61.31

(a) Type ratings required. No person may act as pilot in command or second in

command or Co-pilot of any of the following aircraft unless he holds a type rating:

(1) Each type of aircraft certificated for operation with a minimum crew of at

least two pilots

(2) A large aircraft (except lighter-than-air)

(3) A helicopter, for operations requiring an airline transport pilot license.

(4) A turbojet powered airplane.

(5) Other aircraft specified by the Director General through aircraft type

certificate procedures.

Oct 25

Simulator F-16A Skadron Udara 3


Pembelian satu skadron (12 unit) pesawat tempur canggih fly-by-wire F-16A/B Fighting Falcon dari Lockheed Martin Aircraft System (LMTAS), AS (ketika itu General Dynamics-Forth Worth Division) tahun 1989 mendorong TNI AU, saat itu, untuk juga mengevaluasi rencana pembelian simulatornya. Meskipun harganya mahal (sebanding dengan harga dua unit pesawatnya), namun disadari fasilitas simulator bisa membantu proses familiarisasi (pengenalan) maupun profisiensi keahlian bermanuver dan bertempur bagi para penerbang F-16 tanpa menyebabkan pemborosan bahan bakar, menghemat jam terbang alutsista dan terhindar dari risiko crash. Pada 25 November 1995 ditandatanganilah kontrak pembuatan Simulator F-16A kursi tunggal antara TNI AU dengan Thomson Training & Simulation Ltd (TTSL) Inggris, yang sesungguhnya adalah divisi simulator dari Thomson-CSF Perancis. LMTAS menyokong pembuatan perangkat keras maupun perangkat lunak bagi elemen-elemen pendukung kokpit (cockpit assembly) F-16A yang kalau didata berjumlah ribuan komponen besar dan kecil. Sementara elemen visual seperti image generator, proyektor, sistem head-tracked dibuat oleh Evans St Suherland (E&S) AS, untuk kemudian diintegrasikan di West Sussex, Inggris. Simulator F-16A ini akhirnya tiba di Tanah Air pada November 1997, kira-kira dua tahun sejak pembuatan, pengintegrasian dan pengujiannya dilakukan. Di Lanud Iswahjudi, proses instalasi selesai pada Februari 1998. Sebulan kemudian, 17 Maret 1998 Simulator F-16A Block 15 OCU (Operational Capabilities Upgrade) milik TNI AU itu resmi digunakan. Sebagai catatan, simulator ini berhasil dibeli sewaktu Indonesia sedang “setengah diembargo” AS, menyusul pembatalan proses pembelian F-16 tambahan dan penghentian kerja sama militer AS-Indonesia oleh Pak Harto dan mengalihkan pembelian F-16 tambahan tersebut ke pembelian Sukhoi (yang kemudian batal karena krisis moneter).

Simulator F-16A TNI AU yang bernaung dibawah Wing 3 Lanud Iswahjudi mengingatkan kepada bentuk rupa Planetarium di Jakarta. Bedanya fasilitas ini berukuran mini. Dome Assembly, atau rumah dari simulator berbentuk kubah seperti bola dunia. Dinding bagian dalamnya yang licin sekaligus berfungsi sebagai layar besar untuk menampilkan berbagai gambar panorama yang dipancarkan proyektor. Bentuk bulat disadari mampu memberikan daerah sapuan (scanning area) lebih luas, sehingga menambah kesan realitas simulator ini. Untuk mentenagai simulator tentu saja diperlukan sebuah ‘otak’. Di sinilah kinerja dari host computer atau simulator control computer (SCC) bersistem operasi IRIX versi 5.3 yang berbasis UNIX keluaran Silicon Graphics Inc, AS digunakan. Semua fasilitas ini, kubah serta perangkat besar komputernya, ditempatkan di sudut area Wing 3 Lanud Iswahjudi. Untuk melakukan simulasi teknik penembakan baik air to ground dengan bomb Mk series maupun AGM-65 Maverick dan air to air dengan kanon maupun rudal AIM-9 Sidewinder digunakan Tactical Control Computer yang merupakan bagian dari sistem pengoperasian komputer instruktur terletak di lantai dua secara terpisah. Dari tempat ini instruktur melakukan komunikasi dan pemanduan terhadap pilot yang ada di dalam kokpit. Instruktur melihat tampilan pesawat yang dikendalikan pilot melalui komputer di hadapannya. Bagi penerbang yunior, biasanya, yang diberikan adalah pengenalan terbang menggunakan pesawat generasi keempat ini. Diantaranya general flight I, II, dan instrument flight ke beberapa lanud di Pulau Jawa. Untuk penerbang senior, penggunaan simulator F-16 lebih kepada kesempatan untuk mengasah keterampilan aerobatik, penguasaan manuver maupun penguasaan teknik pertempuran udara. Untuk keperluan ini berbagai skenario simulasi tempur diinstal dalam komputer simulator. Termasuk di dalamnya adalah pertempuran dengan beberapa jenis pesawat tempur canggih lainnya baik yang dibuat AS sendiri maupun buatan Blok Timur.

Simulator dapat digunakan dalam misi udara-ke-udara maupun udara-ke-darat Ketika ditampilkan di layar komputer, diantaranya muncul pilihan F-16 vs MiG-21 Fishbed, MiG-23 Flogger, MiG-29 Fulcrum, dan Su-27 Flanker. Sedang dengan pesawat AS, antara lain F-16 vs F-16, F/A-18 Hornet, dan F-15 Eagle. Sementara wakil Eropa Barat antara lain adalah pembom tempur Mirage-2005. Pilihan bertempur pun tidak hanya sebatas dengan satu pesawat musuh melainkan bisa dengan beberapa pesawat. Misi penghancuran target-target darat juga disediakan. Yakni pemboman areal fixed target maupun sasaran bergerak seperti tank, frigate, dan patrol boat. Untuk melengkapi kegunaan simulator, juga disediakan simulasi air refuelling baik pada kondisi siang maupun malam hari. Suatu hal yang cukup membantu, mengingat TNI AU sampai hari ini belum mempunyai pesawat tanker yang bisa melakukan air refuel bagi F-16 ini. Penggunaan setting dari medan pertempuran juga dimasukkan dalam komputer. Dalam sebuah video militer yang dibuat Aviation Week &) Space Technology bahkan bisa disaksikan bagaimana para penerbang AS, sebelum turun dalam Perang Teluk 1991, digembleng melakukan simulasi pertempuran melawan kekuatan Irak dengan lanskap padang pasir dan basis-basis penting pertahanan Irak. Tidak heran bila kemudian AS dan sekutunya berhasil menaklukan Irak. Sebagaimana diketahui, terbang dengan pesawat tempur modern beda halnya dengan mengendalikan pesawat berteknologi manual. Semua data sudah tersaji dalam layar komputer. Maka penerbang tempur di sini lebih berperan sebagai manajer untuk dirinya: Bagaimana ia harus memilih dan mengambil keputusan yang jitu dari data-data yang sudah ditampilkan komputer. Memperhatikan perangkat kerasnya, Cockpit Assembly Simulator F-16 dibuat sangat mirip dengan aslinya. Namun, beda dengan simulator pesawat transpor sipil, jenis simulator F-16A ini memang jenis fixed-based atau tidak dilengkapi dengan sistem gerak (motion system). Pertimbangan utama tentu karena pesawat tempur mempunyai manuverabilitas sangat tinggi. Sehingga sistem gerak dinilai tidak ekonomis. Meski demikian tidak berarti pilot tidak bisa merasakan gerakan pesawat. Sistem G-seat Mechanism digunakan sebagai pengganti untuk memberi efek gerak pesawat terhadap pilot dibantu dengan efek visual dalam layar kubahnya. Ketika pilot duduk dalam simulator ini, akan sangat terasa sekali kursi gravitasi simulator penempur F-16 menekan-nekan saat mencoba melakukan manuver. Kesan terbang sesungguhnya makin terasa dengan tambahan gemuruh mirip suara semburan jet buang F-16.

Oct 24

About Flight Simulator


Flight Simulator (Simulai Penerbangan) adalah suatu sistem yang dikondisikan untuk pengunanya sedang melakukan penerbangan yang nyata. Perbedaan tipe sebuah simulasi penerbangan dalam permainan komputer adalah ukuran dari kabin pesawat yang biasa disebut dengan kokpit serta keakurasi dari citra yang diolah oleh suatu keadaan dari seni teknologi komputer(wikipedia ensiklopedia bebas, 2011).

Menurut sejarah, Simulasi Penerbangan pertama di dunia yaitu dilakukan pada masa Perang Dunia I yang digunakan oleh US Army Air Corps (Korps Penerbangan AD-US Air Force) setelah terjadi kasus kehilangan lima penerbang terbaiknya dalam penerbangan pos malam hari dan buruknya cuaca pada waktu itu. Setelah kejadian tersebut, terjadi lagi kasus Angkatan Laut Jepang (Japans Imperial Navy) dan banyak lagi kasus lain di tiga puluh lima negara berbeda tentang kejadian kecelakaan pesawat terbang yang sayangnya tidak didokumentasikan. Serta kasus kecelakaan pesawat terbang tersebut menurut hasil instivestigasi disebabkan karena kurang tangkasnya para pilot dalam mengontrol (pilot errors), mengoperasikan (Action errors) dan mengendalikan (Decision error) pesawat terbang menghadapi ganguan yang terjadi pada masa itu(Hasjim blog, 2011).

  • Penggunaan Flight Simulator

Maka pada tahun 1915 dibuatlah alat simulasi penerbangan pertama kali, yang ditemukan oleh Edwin A. Link Jr yang bertujuan untuk menguji kecepatan reaksi terhadap ‘gangguan’ yang diberikan penguji yang digerakkan secara langsung dengan tangan dan didalamnya dilengkapi alat perekam gerakan untuk mencatat kecepatan reaksi para kandidat pilot dan untuk menguji aptitude para calon pilot (Kapten Lek Ir. Arwin D.W. Sumari, 2003).

Di masa kini simulasi penerbangan sering diaplikasikan oleh banyak industri penerbangan dan dunia kemiliteran untuk melatih para calon pilot dan  pilot , simulasi penanggulangan bencana dan pengembangan sebuah pesawat terbang baru serta diaplikasikan juga di dunia  industri luar angkasa untuk pekerjaan penting seperti pengembangan, pengujian, dan verifikasi baik perangkat keras maupun perangkat lunak pesawat maupun sebagai acuan pengembangan tampilan baru kokpit yang bertujuan meningkatkan kewaspadaan awak pesawat.

Saat ini berbagai tipe Simulator dijumpai dalam dunia penerbangan di dunia baik simulator Sipil maupun Militer. Indonesia sendiri dalam dunia militer menggunakan simulator F-16 Buatan Thomshon-CSF. Dan dengan perkembangan dari alat simulator ini, “mata dunia” penerbangan khususnya menjadi tahu bahwa pentingnya alat ini untuk menyelamatkan ribuan nyawa penerbang (Kapten Lek Ir. Arwin D.W. Sumari, 2003)

  • Perkembangan Flight Simulator

Edwin A. Link Jr menemukan Flight Trainer yang dibuat hanya berupa mesin tiruan yang hanya bisa bergerak dalam tiga sumbu seperti pesawat. Yaitu gerakan pitch (atas-bawah/mengangguk), roll(berguling) dan yaw (samping kanan kiri) yang dihasilkan secara mekanik dari manipulasi vacuum suction dan bellows seperti yang digunakan pada organ dan piano. Flight Trainer ini mirip Kockpit yang dilengkapi dengan sebuah control column, control wheel, dua footpedal.

Dengan mengetahui betapa pentingnya Flight Trainer, maka dikembangkan alat simulator ini tetapi hanya dengan penambahan radio komunikasi saja dan penambahan indikator dari kokpit untuk penyempurnaan dari Flight Simulatorsebelumnya.

Setelah terjadinya Perang Dunia II Amerika Serikat, mengembangkan besar-besaran simulasi penerbangan secara terampil dan inovatif guna melawan kekuatan musuh. Maka di kembangkan pula flight simulator yang bentuk replika pesawat terbang tempur saat itu agar para pilot pesawat tempur bisa  menerapkannya nantinya di medan perang.

Setelah Perang Dunia II selesai, para pakar dan ahli penerbangan mulai bersaing untuk bagaimana mensimulasikan para ahli dan pakar astronomi mereka untuk bisa memfoto serta meneropong bintang, yang nantinya diharapkan penerapan ini dilakukan pada astronot- astronot untuk meneliti benda-benda angkasa. Kebutuhan akan Flight Simulator atau Simulator ini semakin signifikan seiring dengan semakin modernnya perlengkapan peperangan udara

Dan alat simulator ini terus berkembang dan disempurnakan. Yang dulunya hanya Single Flight Simulator, pada tahun 1962 terciptalah Double Flight Simulator oleh ahli astronomi dan penerbangan yang dilengkapi dengan teknologi canggih yaitu layar lebar yang seakan-akan penguna Flight Simulator merasa memang mengendalikanya dialam bebas seperti kenyataanya. Dan alan ini lebih di kenal dengan sebutan Differential Maneuvering Simulator (DMS). Bila di masa lalu tidak begitu banyak produsen pesawat tempur dan pada umumnya masih menggunakan teknologi konvensional, di era ini produsen pesawat tempur hampir ada di setiap benua di dunia.   Hal ini memungkinkan diversifikasi produk pesawat tempur yang dihasilkan plus kecanggihannya yang tidak dimiliki hasil karya produsen lain dan tentunya sangat rahasia.

Dengan berkembang dunia computerize, maka berkembang pula dunia simulasi penerbangan. Terlihat kendali sekarang jauh lebih canggih atau automatic dengan layar yang dikondisikan mampu mengakomodasikan dunia nyata masuk pada sistem Flight Simulatoryang baru ini.

Dan yang terakhir, yaitu 4D Walk-In Flight Simulator. Dimana alat simulasi ini penerapannya di lengkapai dengan touch screen, iris scannerdan automatically button yang memudahkan pengeperasiannya dalam melakukan kendali. Dengan harapan nantinya apabila penerapanya pada penerbangan sebenarnya, pilot akan bisa menerapkan segi pengoperasian, pemilihan tindakan yang perlu dilakukan dan lebih memudahkan si pilot untuk melakukan maneuver-maneuver dalam pesawat tempur. Jenis navigasi ini telah diterapkan pada pesawat siluman AmerikaSerikat. Navigasi ini di perkenalkan dalam 2011 Paris Air Show.

Lebih dari itu 4D walk-in simulator dapat dengan mudah di add ataupun di remove tanpa kesulitan dalam program operasional penerbangan atau pengaruh program komputernya. Apapun yang ingin kita lihat dalam evolusi teknologi adalah membawa semakin banyak pengalaman ke dalam kokpit. Ada banyak informasi yang masuk ke dalam kokpit yang tidak dapat kita tangkap hanya dengan mengandalkan penglihatan, tetapi juga dengan pendengaran dan mungkin dengan sentuhan seperti yang kita lakukan(Wilson, 2011). Demi profisiensi penerbang-penerbang tempur Angkatan Udara adalah untuk mencapai zero accident. Pengembangan lebih jauh lagi ke depan adalah Composite Air Strike Flight Simulator (CASFS) yang mengintegrasikan beberapa simulator tipe pesawat yang berbeda untuk simulasi composite air strike pada suatu kegiatan olah yudha. Bila diperlukan formasi dalam pengawalan pesawat angkut atau formasi pesawat angkut yang membawa pasukan, dapat dengan mudah diskenariokan di dalam misi simulator. Dengan fasilitas CASFS, banyak keuntungan yang diperoleh diantaranya :

Misi ke garis depan beresiko tinggi dapat disimulasikan terlebih dahulu sehingga penerbang dapat mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi pada saat pelaksanaan operasi terutama emergency situation. Memperkecil kerugian personel dan materiil sehingga zero accident operasi udara dapat dicapai. Menambah keyakinan pada personel dalam menyelesaikan tugas operasi udara.

  • Flight Simulator bagi manusia.

Dengan adanya Flight Simulator ini, manusia memiliki beberapa keuntungan dalam menghindari kecelakaan atau situasi-situasi tertentu yang akan di simulasikan melalui alat simulasi ini, antara lain ada 4 hal pokok yang bisa diberikan dari alat ini: Dari alat simulator ini dari segi visual diharapankan  manusia dapat mendeskripsipkan maksud tertentu menjadi sebuah bentuk informasi yang lebih mudah dipahami. Dari segi animasi nantinya akan diharapkan Flight simulator ini menjadi media presentasi, informasi, juga media pelengkap bagi penggunanya. Dari segi simulasi diharapkan para pilot mampu mengaplikasikan alat yang digunakan untuk mensimulasikan kontrol atau fungsinya seperti layaknya pesawat terbang sesungguhnya. Juga sebagai wahana latihan (learning curve) para pilot dalam hal pendidikan pilot tentang peningkatan ketangkasan dalam “mengoperatori” pesawat yang digunakan nantinya.

Dari pembelajaran ini akan didapatkan beberapa scenario yang akan dilakukan bila menghadapi masalah-masalah yang bakal terjadi setelah disimulasikan pada Flight Simulator ini. Jadi kesiapan pilot akan lebih teruji dan terasah dalam keadaan apa nantinya si pilot ini melakukan pengambilan keputusan baik itu dalam situasi terbaik, biasa atau terburuk sekalipun.

 

Oct 22

Menjadi Pilot


Menjadi pilot adalah impian hampir setiap laki-laki
Menjadi seorang pilot tentu mempunyai suka dan duka
Banyak diantara kita yang masih kurang paham mengenai istilah PILOT.

(Dulu istilah pilot hanya dipakai untuk penerbang; tapi saat ini pengertian pilot sudah berbeda)

PILOT adalah seseorang yang menjalankan mesin baik itu kendaraan darat laut dan udara, misalnya: supir bis adalah pilotnya; sedangkan keneknya adalah kopilotnya.

COPILOT adalah seseorang yang membantu tugas seorang pilot dalam menjalankan mesin.

Sedangkan kepangkatan dalam dunia penerbangan (sipil) adalah:

CAPTAIN adalah komandan dari pesawat tersebut; Chief de Mission.

FIRST OFFICER  adalah wakil dari Captain yang akan mengambil alih tugas captain apabila captain tidak dapat menjalankan tugasnya.Jadi apabila First Officer yang menjalankan pesawat/mesin; maka dia adalah Pilot nya. sedangkan Captain adalah Copilotnya.

Demikian sebaliknya apabila Captain yang terbang maka dia adalah pilotnya dan dia juga komandan pesawat sedangkan first Officer adalah Copilotnya. 

Jenjang karir seorang penerbang sipil di suatu A irline biasanya dimulai sebagai First Officer (F/O) di pesawat kecil dalam perusahaan tersebut. Kemudian naik ke pesawat yang lebih besar, masih sebagai F/O dan seterusnya. Kemudian mendapat promosi sebagai Captain di pesawat kecil; selanjutnya sebagai Captain ke pesawat yang lebih besar demikian seterusnya.

Sebagai penerbang sipil biasanya kita tidak mengenal hari, jadi kerja penerbang tidak sama seperti pegawai kantor/darat, karena sebagai penerbang kita tetap bekerja walaupun hari minggu/besar apabila kita mendapat tugas/jadwal terbang maka kita harus menjalankannya. Walaupun begitu, sebagai seorang pilot hampir tidak pernah ada yang mengatakan bosan terbang....

Bayangkan bisa terbang seperti burung, makanya tidak jarang pesawat udara disebut juga si " Burung Besi". Namanya saja burung besi pasti berat tapi bisa terbang luar biasa.

Dengan kemajuan teknologi sekarang ini untuk pesawat komersil/penumpang yang terbesar saat ini adalah Airbus A-380; pesawat ini lebih besar dari Jumbo Boeing 747-400 yang dimiliki oleh maskapai Nasional Garuda Indonesia yang saat ini saya terbangkan.

Pesawat Boeing 747-400 mempunyai daya angkut 397 Ton (397,000 Kg); kapasitas tangki bahan bakar: 170 Ton (170,000 kg); kapasitas penumpang: 500 orang; Crew 22 orang (4 cockpit/18 cabin).

Itu baru Boeing 747-400 belum Airbus A-380 yang tentunya lebih besar lagi.

Kehebatan teknologi masa kini dalam dunia kedirgantaraan maju sangat pesat sekali. Dengan kecepatan pesawat yang semakin cepat maka jarak antara dua kota/negara jadi sangat dekat. Contoh, dulu kalau orang mau menunaikan ibadah Haji harus naik kapal laut. yang memakan waktu hampir 1 bulan perjalanan nah dengan adanya pesawat udara perjalanan itu bisa ditempuh dalam waktu 9 jam saja !!! 
Luar biasa bukan ?

Menjadi pilot seperti melakukan "quantum leap" karena dalam waktu yang singkat anda dapat mewujudkan impian anda. Hubungannya dengan waktu pendidikan yang sangat singkat dibandingkan dengan pendidikan kesarjanaan lainnya; Bayangkan, hanya dalam waktu 8-12 bulan anda sudah dapat mendapatkan License CPL-IR (Commercial Pilot License with Instrument Rating) yang dibutuhkan bagi penerbang untuk menerbangkan pesawat komersil di maskapai penerbangan.

Disamping itu dunia penerbangan saat ini boleh dibilang sangat-sangat membutuhkan pilot, ini bukan hanya di Indonesia tetapi diseluruh dunia. Pertambahan pilot sangatlah minim dibandingkan dengan pertambahan sarjana ekonomi maupun dokter dan disiplin ilmu yang lain.

Menjadi PILOT gampang-gampang susah; yang penting kesadaran kita untuk bisa menjaga kesehatan dari usia dini tentunya. Kesadaran berperilaku sehat: tidak merokok (misalnya), anda semua pasti tahu akan bahaya merokok. Ber olah-raga dengan teratur; apalagi di era sekarang dimana banyak terdapat "fitness center" sekolah yang mempunyai fasilitas gym.

Untuk menjadi penerbang menjaga indera mata kita sangat penting; tapi jangan kuatir bagi anda yang menggunakan kacamata bukan berarti anda tidak bisa menjadi penerbang; technology kedokteran juga sudah maju banyak cara untuk dapat memperbaiki penglihatan kita.

Jadi yang terpenting disini adalah bagaimana kita menjaga kesehatan kita supaya pada saatnya nanti kita tetap fit. Cita cita yang kuat akan membantu mewujudkan kita untuk mewujudkan impian kita menerbangkan pesawat.

Youtube Channel Vince Group Indonesia
Instagram flightdeckindonesia
Facebook Page flightdeckindonesia
Facebook Group flightdeckindonesia
Twitter @FlightDeckID
Tokopedia flightdeckid
Bukalapak flightdeckid

Reservation

Telp: +6221-22512344
Whatsapp / SMS: +62812-1000-645
Line: flightdeckindonesia
[email protected]

Business Offer

Reiner Alex
Telp: +62821 2455 0666
Email: [email protected]

Flight Deck Indonesia

Ruko Elang Laut Boulevard Blok B No. 5
Pantai Indah Kapuk
Jakarta Utara
Operating Hours 11:00 - 20:00 WIB

Member of